time is money
Anda pastinya sudah sering mendengar nasihat klise ini bukan?
Ia sarat makna, tapi saya yakin, Anda belum pernah menganalisanya secara lebih mendalam.
Pernyataan ini, misalnya, mengingatkan kita untuk menyadari tentang waktu.
Agar tidak bermalas-malasan karena waktu itu berharga. Daripada
menyiakannya, waktu yang sama bisa dipakai untuk hal yang lebih berguna
atau bermakna.
Ia juga mengajarkan kita agar lebih produktif.
Memilih untuk memakai mesin fotokopi daripada menyalin dokumen yang
sama 20 kali dengan tangan. Belajar memakai komputer untuk menyusun
laporan daripada memakai mesin ketik yang rentan kesalahan. Menyewa
desainer yang
berpengalaman daripada mencoba merancang dan membangun situs web
sendiri.
Dari sudut pandang ini, nasihat ini kedengarannya baik.
Namun sedikit orang yang menyadari bahwa ia juga pisau bermata ganda.
Tak sedikit orang yang memakainya sebagai alasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, walaupun mereka harus membayar lebih mahal untuk itu.
Contohnya begini.
Kita
menjadikannya alasan agar tidak menghidangkan makanan sehat di rumah
dan pergi ke restoran cepat saji, padahal sebelumnya kita barusan
menghabiskan tiga jam di depan televisi.
Kita
menghibur diri dengan alasan ini ketika harus membayar programmer dua
kali lebih mahal karena deadline sudah tinggal tiga bulan, padahal kalau
direncanakan dengan baik, kita bisa memulai proyek ini 12 bulan
sebelumnya dan bisa membayar dengan tarif normal.
Kita berkilah bahwa memanggil taksi itu lebih baik daripada berjalan kaki, padahal kita tidak sedang dikejar waktu.
Ya, nasihat ini sudah menjadi senjata praktis yang bisa dipakai kapan pun untuk menyesuaikan tindakan kita.
Kenyataannya, tentu saja, waktu kita tidak selalu bisa diuangkan. Tidak setiap detik kita menghasilkan uang.
Seorang
manajer mungkin menghasilkan Rp. 100 ribu per jam. Dengan asumsi ia
bekerja 8 jam sehari dan 20 hari per bulan, gajinya kira-kira Rp. 15
juta. Namun kalau Anda membagikan gaji itu dengan jumlah jam dalam satu
bulan, sesungguhnya nilai per jam dari sang manajer itu tidak lebih dari
Rp. 21 ribu saja. Jelas tidak setinggi yang dibayangkannya.
Saya tidak bilang kita harus sangat kritis dan perhitungan dalam hal ini.
Wajar saja sesekali Anda memanjakan diri.
Mengeluarkan sejumlah uang untuk liburan, misalnya, merupakan
pengalaman yang sangat berharga. Ia juga memulihkan energi dan semangat
Anda agar bisa lebih produkif.
Cuma, pada saat Anda menjadikannya sebagai alasan, sebaiknya Anda memetik pelajaran yang ada dan memperbaikinya juga.
Jangan
menjadikan restoran cepat saji sebagai pilihan mudah. Tepis kemalasan
dan persiapkan makanan sehat karena memang kita ingin memelihara tubuh
dan hidup lebih sehat.
Pilihlah untuk berjalan kaki agar bisa membakar kalori dan merasa lebih baik setelah mengucurkan keringat.
Belajarlah
mengelola waktu dengan lebih baik agar lain kali tidak mengulangi
kesalahan yang sama lagi dan membayar mahal untuk layanan seperti
pemrograman.
Dan kalau Anda benar-benar menghargai waktu?
Pilihan yang jauh lebih baik daripada mengeluarkan uang adalah menginvestasikannya pada diri sendiri.
Melengkapi
diri Anda dengan keahlian bisnis, misalnya, memungkinkan Anda menerobos
batas dari penghasilan Anda. Semakin piawai Anda dalam bisnis, semakin
tinggi pula pendapatan yang bisa Anda raih.
Belajar untuk menjadikan bisnis Anda portabel, misalnya, akan membebaskan Anda secara waktu dan lokasi.
Menguasai
bidang otomatisasi, misalnya, akan melipatgandakan produktivitas dan
penghasilan Anda, serta pada saat yang bersamaan, meluangkan lebih
banyak waktu Anda.
semoga bermanfat bagi anda supaya anda termotivasi...................................//////////////

Tidak ada komentar:
Posting Komentar